Pencarian

Dari Desa Menggapai Gelar Doktor, Septa Diana Nabella Buktikan Anak Desa Berhak Memiliki Impian Besar

Kamis, 10 September 2026 • 23:11:04 WIB
Dari Desa Menggapai Gelar Doktor, Septa Diana Nabella Buktikan Anak Desa Berhak Memiliki Impian Besar

BATAM,ANDALAN.CO-Tidak semua orang memulai perjalanan hidup dengan kemudahan. Ada yang harus melangkah tanpa banyak tempat bersandar, menahan lelah dalam diam, dan menjaga impian seorang diri agar tidak direnggut keadaan.

Perjalanan itulah yang dilalui Assoc. Prof. Dr. Septa Diana Nabella, S.E., M.M. Perempuan kelahiran Desa Sungai Piring, Kecamatan Batang Tuaka, Kabupaten Indragiri Hilir, Riau, pada 17 September 1987 tersebut harus menghadapi kehilangan besar sejak usia belia.

Di kampung halamannya, Septa lebih akrab disapa Diana. Di balik nama yang kini dikenal sebagai seorang akademisi, tersimpan perjalanan hidup panjang yang ditempa oleh kehilangan, keterbatasan, dan perjuangan.

Saat berusia 12 tahun, Diana kehilangan sosok ibu yang selama ini menjadi tempatnya mendapatkan kasih sayang. Kepergian sang ibu meninggalkan luka mendalam dalam kehidupannya. Namun, ia berusaha bangkit dan melanjutkan hidup dengan segala keterbatasan.

Ujian kembali datang ketika Diana sedang menempuh pendidikan sarjana. Di tengah perjuangannya mengejar gelar S1, ia juga harus kehilangan sang ayah.

Kepergian kedua orang tuanya membuat Diana harus belajar berdiri di atas kaki sendiri. Tidak ada lagi ayah dan ibu sebagai tempat mengadu ketika langkahnya terasa berat. Ia harus menyimpan kesedihan, menguatkan diri, dan terus berjalan demi menjaga impian yang telah dibangun.

Berangkat dari sebuah desa di pesisir Indragiri Hilir, Diana tidak membawa kemewahan. Bekalnya hanyalah keberanian, keteguhan hati, dan keyakinan bahwa keterbatasan bukanlah alasan untuk mengubur cita-cita.

Ketika sebagian orang dapat melangkah dengan dukungan dan fasilitas memadai, Diana harus menempa dirinya sendiri. Ia menghadapi kerasnya kehidupan sambil menjaga satu harapan: perjuangannya kelak akan menemukan tujuan.

Hari-harinya bukan sekedar tentang mengejar gelar. Ia juga harus belajar bertahan, menghadapi berbagai kesulitan, dan menguatkan diri ketika keadaan terasa tidak berpihak.

Rasa lelah dan berbagai rintangan berulang kali menghampiri. Namun, Diana memilih untuk terus berjalan. Ia meyakini bahwa air mata dan pengorbanan tidak selamanya berakhir menjadi kesedihan.

Perjuangan panjang tersebut mulai membuahkan hasil. Pada 2010, ia menyelesaikan pendidikan Sarjana Manajemen di STIE Ibnu Sina Batam.

Dua tahun kemudian, Diana meraih gelar Magister Manajemen dari Universitas Borobudur. Pencapaian itu tidak membuatnya berhenti. Di tengah kesibukannya bekerja dan mengabdi dalam dunia pendidikan, ia kembali melanjutkan pendidikan ke jenjang tertinggi.

Pada 2026, perempuan asal Desa Sungai Piring itu berhasil menyelesaikan pendidikan Doktor Ilmu Manajemen di Universitas Persada Indonesia Y.A.I.

Gelar doktor tersebut bukan sekadar tambahan di belakang namanya. Di dalamnya tersimpan perjalanan panjang seorang anak desa yang menolak menyerah kepada keadaan.

Gelar itu seakan menjadi jawaban atas lelah yang selama ini disembunyikan, kesulitan yang pernah dilalui seorang diri, serta doa-doa yang terus dipanjatkan ketika tidak banyak orang mengetahui betapa berat perjuangannya.

Meski ayah dan ibunya tidak lagi berada di sisinya untuk menyaksikan pencapaian tersebut, semangat dan kenangan tentang keduanya tetap hidup dalam setiap langkah perjuangan Diana.

Dalam perjalanan hidup berikutnya, Diana tidak lagi berjalan sendirian. Kehadiran sang suami, Yandra Rivaldo, S.E., M.M., menjadi bagian penting dalam perjuangannya.

Dukungan, doa, dan pengertian sang suami turut memberikan kekuatan kepada Diana dalam menjalankan berbagai tanggung jawab sebagai istri, akademisi, pemimpin, peneliti, dan mahasiswa program doktor.

Yandra tidak hanya hadir sebagai pasangan hidup, tetapi juga menjadi teman berbagi dalam menghadapi berbagai tantangan. Di balik keberhasilan Diana menyelesaikan pendidikan doktor, terdapat peran seorang suami yang setia mendampingi dan menguatkannya hingga perjuangan panjang itu mencapai tujuan.

Dari Sungai Piring, Diana kemudian tumbuh menjadi akademisi senior. Ia kini menyandang jabatan fungsional Lektor Kepala di Universitas Ibnu Sina dengan bidang keahlian manajemen keuangan.

Pencapaian tersebut tidak diraih dalam waktu singkat. Diana membangun kariernya secara perlahan, setapak demi setapak, dimulai dari posisi staf.

Pada 2007–2012, ia bekerja sebagai staf Bagian Lahan dan Dana Pembangunan Yayasan Pendidikan Ibnu Sina Batam. Pekerjaan tersebut menjadi bagian awal dari perjalanan panjangnya di lingkungan pendidikan.

Setelah melewati berbagai tahapan, Diana dipercaya menjadi Sekretaris Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI) STIE Ibnu Sina Batam pada 2018–2019.

Sejak 2019 hingga sekarang, ia mengemban amanah sebagai Ketua Program Studi S1 Manajemen Universitas Ibnu Sina.

Karier Diana juga merambah dunia usaha. Ia pernah menjabat Direktur Utama PT Area Wahana Mas pada 2013–2017. Sejak 2020, ia juga memimpin CV Andara Wahana Karya, sebuah usaha yang kala itu dirintis bersama rekan sesama dosen yang kini telah menjadi pendamping hidupnya, Yandra Rivaldo.

Kebersamaan yang bermula dari perjuangan membangun usaha tersebut kemudian tumbuh menjadi ikatan kehidupan. Keduanya tidak hanya menjadi pasangan dalam rumah tangga, tetapi juga saling mendukung dalam meniti karier, pendidikan, dan pengabdian.

Di tengah kesibukannya memimpin dan mengajar, Diana tetap aktif menulis serta melakukan penelitian. Namanya tercatat dalam berbagai publikasi ilmiah nasional maupun internasional.

Penelitiannya membahas beragam persoalan, mulai dari kinerja perbankan, pasar modal, pengelolaan risiko kredit, investasi hijau, energi terbarukan, efisiensi penggunaan dana desa, hingga pengelolaan keuangan keluarga.

Prestasinya di dunia pendidikan semakin diakui. Diana dipercaya memeriksa dan menilai naskah hasil penelitian sebelum diterbitkan dalam sejumlah jurnal ilmiah internasional.

Jurnal tersebut di antaranya PLOS ONE, jurnal internasional bereputasi yang berada dalam kelompok peringkat Q, F1000Research, Journal of the Knowledge Economy atau Jurnal Ekonomi Berbasis Pengetahuan, serta Cogent Business & Management atau Jurnal Bisnis dan Manajemen.

Berbagai karya dan kegiatan penelitiannya juga tercatat dalam sistem pendataan ilmiah nasional maupun internasional, seperti Scopus, Web of Science, ORCID, dan SINTA.

Melalui sistem tersebut, hasil penelitian Diana dapat ditemukan, dibaca, dan dijadikan rujukan oleh mahasiswa, dosen, serta peneliti dari berbagai negara.

Catatan itu menunjukkan bahwa Diana tidak hanya aktif mengajar di ruang kuliah. Ia juga turut menyumbangkan pemikiran dan pengetahuannya bagi perkembangan dunia pendidikan dan penelitian.

Di bidang organisasi, Diana dipercaya menjadi Koordinator Bidang Keuangan Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Cabang Batam periode 2025–2028.

Ia juga menjabat Wakil Bendahara II Forum Manajemen Indonesia (FMI) Wilayah Kepulauan Riau periode 2025–2028 dan tercatat sebagai pengurus DPW Forum Komunikasi Dosen Indonesia (FKDI) Provinsi Kepulauan Riau periode 2023–2028.

Kini, nama Septa Diana Nabella berdiri bersama deretan gelar, jabatan, dan karya ilmiah. Namun, di balik semua pencapaian tersebut, tersimpan kisah yang jauh lebih besar daripada sekadar barisan tulisan dalam daftar riwayat hidup.

Ada seorang anak perempuan yang kehilangan ibu ketika usianya masih 12 tahun. Ada seorang mahasiswi yang kembali kehilangan ayah saat sedang berjuang menyelesaikan pendidikan. Ada langkah yang terus dipaksakan berjalan meski lelah, serta kesendirian yang perlahan diubah menjadi kekuatan.

Ada pula seorang suami yang kemudian hadir untuk menemani, mendukung, dan menguatkan perjuangannya.

Perjalanan Diana membuktikan bahwa anak desa tidak boleh takut bermimpi. Tempat kelahiran bukanlah penentu sejauh mana seseorang dapat melangkah. Kehilangan dan keterbatasan juga tidak berhak memutus masa depan.

Dari Desa Sungai Piring, Kecamatan Batang Tuaka, menuju puncak akademik, Diana menunjukkan bahwa perjuangan yang dijalani dengan keteguhan dan kesabaran tidak akan berakhir sia-sia.

Ia berangkat dari desa dengan membawa impian. Meski harus kehilangan kedua orang tuanya dalam perjalanan, Diana tidak membiarkan kesedihan mengubur cita-citanya. Bertahun-tahun kemudian, perjuangan itu mengantarkannya meraih gelar doktor.

Kisah hidup Septa Diana Nabella membawa pesan kepada generasi muda, khususnya anak-anak desa, agar tidak takut memiliki impian besar dan tidak menyerah hanya karena jalan yang dilalui terasa sunyi.

Sebab, seseorang memang tidak dapat memilih ujian yang datang dalam hidupnya. Namun, ia dapat memilih untuk tetap berdiri, terus melangkah, dan membuktikan bahwa keterbatasan bukanlah akhir dari masa depan.

Bagikan

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks