Pencarian

Suatu Sore di Pantai Lhok Bubon Cerpen oleh Muhibbul Jamil

Senin, 15 Juni 2026 • 18:39:48 WIB
Suatu Sore di Pantai Lhok Bubon  Cerpen oleh Muhibbul Jamil

ANDALAN.CO-Ombak kecil berderai di tepian pantai, seakan mengikuti langkah kakiku. Sejak turun dari sepeda motor, kamera Canon yang kubawa tak henti-hentinya kubidikkan ke arah laut dan sepanjang Pantai Lhok Bubon. Panorama alam yang indah membuatku terus mengabadikan setiap sudut yang memikat mata.

Saat sedang memotret, tiba-tiba terdengar suara dari ujung pantai.

“Bang, bang! Sini foto kami ramai-ramai di sini... cepat!”

Suara riuh itu berasal dari sekelompok muda-mudi yang sedang berkumpul. Aku pun segera melangkah menuju tempat mereka.

Sesampainya di sana, mereka langsung berdiri dan mengambil posisi dengan gaya yang sopan untuk difoto. Ketika pemotretan sedang berlangsung, tiba-tiba datang seorang lelaki setengah baya. Di tangannya tergantung dua buah kelapa tua, sementara di pinggangnya terselip sepotong kayu pendek yang bentuknya menyerupai pistol.

Dengan suara keras ia berteriak,

“Hai, hai! Jangan kumpul-kumpul di tempat ini! Tidak tahu apa? Pinggiran pantai ini milik saya. Lihat yang di pinggang saya ini!”

Ia menunjuk ke arah pinggangnya, memperlihatkan kayu pendek yang menyerupai pistol tersebut.

Mendengar teriakannya, para muda-mudi itu langsung bubar dan berlari menjauh. Sementara aku tetap berdiri di dekat lelaki setengah baya itu. Setelah memperhatikannya beberapa saat, barulah kusadari bahwa ia ternyata mengalami gangguan jiwa.

Tak lama kemudian aku berjalan ke ujung pantai dan kembali bertemu dengan rombongan muda-mudi yang tadi memanggilku.

“Bang, ke mana orang tadi?” tanya Rita, salah seorang dari mereka.

“Oh, masih di ujung sana,” jawabku. “Orang gila itu tidak akan mengganggu kalian.”

Mereka pun tertawa mendengar jawabanku.

“Ayo, Bang, minum dulu. Makan kue juga,” kata salah seorang di antara mereka sambil menyodorkan beberapa potong kue.

“Wah, terima kasih,” jawabku.

“Sini saja foto kami ramai-ramai lagi. Kalau sudah siap, nanti antarkan fotonya ke Lorong Singa, Meulaboh, ya.”

Aku mengangguk dan kembali mengabadikan momen kebersamaan mereka.

Setelah pemotretan selesai, salah seorang bertanya, “Berapa biaya sekali foto, Bang?”

“Nanti saja,” jawabku sambil tersenyum.

“Oh, ya,” sahut mereka serempak.

Kulirik arloji di tangan. Jarumnya menunjukkan pukul 16.20 WIB. Matahari mulai condong ke barat, memancarkan cahaya keemasan di atas permukaan laut.

Aku pun berbalik arah untuk pulang.

Selamat tinggal, Pantai Lhok Bubon, pantai yang selalu menyimpan pesona dan cerita.

Tamat

Tags: #cerpen
Bagikan

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks