PEKANBARU,ANDALAN.CO-Gajah-gajah di Riau bukanlah tamu di hutan yang mereka huni. Satwa ikonik ini telah menjadi bagian dari sejarah dan penyangga keseimbangan ekosistem jauh sebelum manusia membuka jalan, membangun permukiman, dan menetapkan batas-batas wilayah seperti yang dikenal saat ini.

Namun, di balik tubuh mereka yang kokoh dan tatapan yang tenang, tersimpan ancaman yang semakin nyata. Hutan sebagai habitat alami terus menyusut, sementara jalur jelajah yang diwariskan dari generasi ke generasi perlahan menghilang akibat tekanan aktivitas manusia.

Mereka memang tidak dapat berbicara, tetapi setiap konflik antara manusia dan satwa liar, setiap ruang hidup yang tergerus, hingga setiap langkah gajah yang kehilangan arah merupakan pesan yang seharusnya mampu didengar dengan hati nurani.

Melalui pendekatan Green Policing, Kapolda Riau Irjen Pol. Herry Heryawan, S.I.K., M.H., M.Hum., mengajak seluruh masyarakat untuk bersama-sama menjaga warisan alam yang tak ternilai tersebut. Menurutnya, pelestarian lingkungan bukan hanya kewajiban moral, tetapi juga bagian dari tanggung jawab bersama dalam menjaga keamanan dan keberlanjutan kehidupan.

"Jangan sampai generasi mendatang hanya mengenal Gajah Sumatra melalui foto, cerita, atau lembaran buku sejarah. Jangan sampai anak cucu kita bertanya mengapa kita memilih diam ketika rumah mereka dirusak dan masa depan mereka dipertaruhkan," ujar Kapolda Riau.

Ia menegaskan bahwa sudah saatnya masyarakat menjadi generasi yang memilih menjaga, bukan merusak; merawat, bukan mengabaikan.

"Menyelamatkan gajah bukan semata tentang melindungi satu spesies, melainkan menjaga keseimbangan alam yang menjadi penopang kehidupan kita bersama," katanya.

Menurut Irjen Herry, ketika seekor gajah kehilangan hutannya, sesungguhnya manusia juga kehilangan sebagian masa depannya. Ketika hutan berhenti bernapas, yang hilang bukan hanya kehidupan satwa liar, tetapi juga harapan bagi bumi yang akan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Karena itu, melalui semangat Green Policing, ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk mengambil peran nyata dalam menjaga kelestarian hutan dan satwa liar. Riau yang hijau, lestari, dan harmonis dengan alam, kata dia, bukanlah tanggung jawab segelintir pihak, melainkan panggilan bersama yang harus dijawab dengan aksi nyata.

"Mari bergandengan tangan menjaga hutan, melindungi gajah, dan membuktikan bahwa manusia masih mampu menjadi sahabat bagi alam yang selama ini telah memberi kehidupan kepada kita," ajaknya.

Menjaga gajah berarti menjaga hutan. Menjaga hutan berarti menjaga kehidupan. Dan menjaga kehidupan adalah tanggung jawab bersama demi Riau yang lestari dan masa depan yang lebih baik.

Dalam kesempatan yang sama, Kapolda Riau Irjen Pol. Herry Heryawan resmi memberikan nama "Nona Seroja" kepada seekor anak gajah betina yang baru lahir di kawasan Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN).

Kehadiran bayi gajah tersebut menjadi harapan baru di tengah berbagai tantangan pelestarian Gajah Sumatra yang masih dihadapi hingga saat ini. Pemberian nama "Nona Seroja" dimaknai sebagai simbol optimisme agar populasi Gajah Sumatra tetap dapat bertahan dan berkembang di habitat alaminya.

Momen kelahiran itu juga dinilai penting dalam rangkaian upaya konservasi dan perlindungan kawasan Tesso Nilo yang terus dilakukan oleh berbagai pihak.

Irjen Herry mengaku merasa terhormat ketika diminta memberikan nama bagi anak gajah tersebut. Ia menjelaskan bahwa penamaan itu sebelumnya telah dikonsultasikan kepada Menteri Kehutanan, Raja Juli Antoni, dan mendapat persetujuan.

"Kelahiran Nona Seroja menjadi simbol harapan bagi masa depan konservasi Gajah Sumatra sekaligus pengingat bahwa upaya menjaga kelestarian alam harus terus dilakukan secara bersama-sama," tutupnya.

Reporter: Redaksi