JAKARTA,ANDALAN.CO-PT -Hutama Karya (Persero) mempercepat penanganan sejumlah jalan, jembatan, dan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) yang terdampak bencana di Provinsi Aceh.
Penanganan dilakukan untuk memulihkan konektivitas, mobilitas, distribusi logistik, serta layanan air bersih bagi masyarakat di wilayah terdampak.
Hutama Karya menangani tiga ruas jalan nasional di bawah Direktorat Jenderal Bina Marga Kementerian Pekerjaan Umum. Ketiga ruas tersebut yakni Simpang Uning-Batas Gayo Lues (PPK 3.3), Batas Aceh Tengah/Gayo Lues-Blangkejeren (PPK 3.4), serta Batas Gayo Lues/Aceh Tenggara-Kota Kutacane (PPK 3.5).
Selain itu, Hutama Karya menangani pemulihan SPAM pascabencana di Kabupaten Aceh Tamiang dan Aceh Timur yang berada di bawah Direktorat Jenderal Cipta Karya.
Pada ruas Simpang Uning–Batas Gayo Lues sepanjang 82,4 kilometer, penanganan dilakukan di 28 titik. Rinciannya, 24 titik longsor dan empat titik perbaikan jembatan.
Pekerjaan meliputi penanganan jembatan, pembangunan dinding penahan tanah (DPT), pemasangan blok beton, shotcrete, serta bore pile. Langkah tersebut dilakukan untuk memperkuat lereng dan badan jalan yang terdampak bencana.
Pekerjaan dimulai pada 5 Desember 2025 dan ditargetkan rampung pada 31 Desember 2026. Hingga minggu ketiga Agustus 2026, progres fisik mencapai 58,78 persen.
Sebanyak delapan dari 28 titik telah selesai ditangani, terdiri atas dua titik blok beton, dua titik DPT, tiga titik shotcrete, dan satu titik jembatan. Pekerjaan melibatkan sedikitnya 81 karyawan dan 315 tenaga kerja.
Sementara itu, pada ruas Batas Aceh Tengah/Gayo Lues-Blangkejeren sepanjang 123 kilometer, Hutama Karya menangani 23 titik terdampak dengan panjang penanganan efektif mencapai 2,7 kilometer.
Penanganan tersebut mencakup tujuh titik longsor dan satu jembatan di ruas N22 Aceh Tengah-Blangkejeren, serta 15 titik longsor di ruas N23 Blangkejeren-Aceh Tenggara.
Pekerjaan yang dilakukan meliputi pemasangan precast buis beton, beton siklop FC15, dinding penahan beton, dan timbunan pilihan. Penanganan ini ditujukan untuk memperkuat serta meningkatkan stabilitas badan jalan agar mobilitas masyarakat dan distribusi barang kembali lancar.
Pekerjaan dimulai pada 6 Desember 2025 dan ditargetkan selesai pada 31 Desember 2026. Hingga minggu ketiga Agustus 2026, progres fisiknya mencapai 46,17 persen dengan dukungan sekitar 130 karyawan dan 190 tenaga kerja.
Pada ruas Batas Gayo Lues/Aceh Tenggara-Kota Kutacane, penanganan dilakukan di enam titik dengan total panjang 3.775 meter. Titik tersebut terdiri atas dua jembatan dan empat lokasi longsor.
Rinciannya, longsor di kawasan Ketambe sepanjang 325 meter, Kafetingir 1.072 meter, Bener Berpapah 500 meter, serta Lawe Ger-ger 675 meter. Kemudian, Jembatan Penanggalan sepanjang 793 meter dan Jembatan Mengkudu 410 meter.
Pekerjaan di ruas ini mencakup pembangunan drainase, box culvert, pekerjaan tanah, perkerasan jalan, DPT, bore pile, serta jembatan rangka baja.
Pekerjaan dimulai sejak 5 Desember 2025 dan ditargetkan selesai pada 31 Desember 2026. Hingga minggu ketiga Agustus 2026, progres fisik mencapai 57,06 persen dengan melibatkan sekitar 76 karyawan dan 155 tenaga kerja.
Pulihkan Layanan Air Bersih
Tak hanya jalan dan jembatan, Hutama Karya juga mendukung pemulihan layanan air bersih melalui penanganan SPAM pascabencana di Aceh Tamiang dan Aceh Timur.
Penanganan meliputi pembersihan fasilitas, pembangunan 20 sumur bor, rehabilitasi Instalasi Pengolahan Air (IPA), serta pembangunan dua IPA baru.
Di Aceh Tamiang, pekerjaan mencakup pembangunan dua IPA baru dan delapan sumur bor. Sementara di Aceh Timur, Hutama Karya merehabilitasi dua IPA dan membangun 12 sumur bor.
Pekerjaan dimulai pada 22 Desember 2025 dan ditargetkan rampung pada 17 Desember 2026. Sampai minggu ketiga Agustus 2026, progres fisiknya mencapai 39,25 persen dengan dukungan 30 karyawan dan 48 tenaga kerja.
Dalam pelaksanaannya, Hutama Karya berkoordinasi dengan Kementerian Pekerjaan Umum, BP2JN/BPJN Aceh, pejabat pembuat komitmen (PPK), serta konsultan pengawas. Metode penanganan disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan teknis di setiap lokasi terdampak.
Pj Executive Vice President Sekretaris Perusahaan Hutama Karya, Hamdani, mengatakan penanganan tersebut merupakan bagian dari upaya mempercepat pemulihan infrastruktur dan layanan dasar masyarakat.
“Bagi Hutama Karya, penanganan infrastruktur terdampak bencana merupakan bagian dari tanggung jawab kami untuk mendukung pemulihan masyarakat di wilayah terdampak,” kata Hamdani dalam keterangannya.
Menurutnya, penanganan jalan, jembatan, dan infrastruktur air minum dilakukan agar aktivitas serta mobilitas masyarakat kembali berjalan dengan baik.
“Kami terus mengedepankan kualitas pekerjaan, keselamatan, serta ketepatan waktu agar setiap penanganan memberikan manfaat nyata dan mendukung percepatan pemulihan wilayah terdampak,” tutupnya.
Upaya tersebut juga disebut sejalan dengan Asta Cita Pemerintah dalam memperkuat konektivitas antardaerah, mendorong pemerataan pembangunan, serta meningkatkan kualitas hidup masyarakat.