JAKARTA,ANDALAN.CO- PT Hutama Karya (Persero) terus mendorong transformasi teknologi dalam pembangunan infrastruktur. Bertepatan dengan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (Hakteknas) 2026, perusahaan memperkuat pemanfaatan Building Information Modeling (BIM), LiDAR hingga Lean Construction di berbagai proyek strategis.
Teknologi tersebut digunakan untuk meningkatkan akurasi pekerjaan sekaligus menekan biaya, waktu pengerjaan dan risiko pekerjaan ulang atau rework. Penerapannya mencakup proyek jalan, jembatan, jalan tol, bendungan hingga gedung.
Perjalanan penerapan BIM di Hutama Karya dimulai sejak penugasan pembangunan Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) pada 2014. Skala proyek tersebut membutuhkan koordinasi desain dan pengendalian konstruksi yang lebih terintegrasi dibanding metode konvensional berbasis gambar kerja dua dimensi.
Pengembangan kemudian dilanjutkan dengan pembentukan Unit BIM pada 2018. Pada 2020, unit tersebut diperkuat menjadi Bagian BIM di bawah Divisi Sistem dan Teknologi Informasi.
Setahun kemudian, Hutama Karya tercatat sebagai perusahaan konstruksi pertama di Indonesia yang meraih sertifikasi ISO 19650 Kitemark untuk Part 1, 2 dan 5.
BIM Digunakan dari Perencanaan hingga Serah Terima
Saat ini penerapan BIM telah menjangkau seluruh tahapan proyek. Pada tahap perencanaan, teknologi tersebut digunakan untuk merancang bangunan secara detail dan mengoordinasikan berbagai elemen desain sejak awal.
Dengan sistem itu, potensi persoalan konstruksi dapat terdeteksi lebih dini sebelum pekerjaan masuk ke lapangan.
Saat konstruksi berjalan, BIM digunakan untuk memantau progres, mengendalikan waktu dan biaya serta membantu koordinasi antartim.
Menjelang proyek selesai, model BIM disempurnakan menjadi representasi digital aset yang telah dibangun dan dapat digunakan untuk mendukung pengelolaan aset selanjutnya.
Data tersebut nantinya didukung melalui sistem digital terpadu Common Data Environment (CDE). Melalui sistem itu, tim internal maupun pemilik proyek dapat mengakses informasi yang sama secara real time sesuai kebutuhan dan standar masing-masing proyek.
Dari Sosrobahu hingga Teknologi Digital
Inovasi teknologi bukan hal baru bagi Hutama Karya. Jauh sebelum era BIM, perusahaan telah melahirkan teknologi Sosrobahu yang dikembangkan Ir. Tjokorda Raka Sukawati.
Teknologi tersebut memungkinkan kepala pier jalan layang diputar setelah proses pengecoran. Dengan metode itu, pembangunan jalan layang dapat dilakukan dengan meminimalkan gangguan terhadap lalu lintas di bawahnya.
Sosrobahu kemudian dikenal sebagai salah satu inovasi konstruksi Indonesia yang penggunaannya berkembang hingga ke luar negeri.
Plt. Executive Vice President (EVP) Engineering, Riset & Teknologi Informasi Hutama Karya, Amy Rachmadhani W, mengatakan pemanfaatan teknologi konstruksi di perusahaan diarahkan untuk menjawab kebutuhan bisnis, bukan sekadar mengikuti perkembangan tren.
Menurut Amy, Hakteknas menjadi momentum untuk mengingatkan bahwa teknologi dalam industri konstruksi bukan lagi sekadar pilihan tambahan.
"Teknologi tidak menggantikan manusia. Ia membuka ruang bagi mereka yang berani mencoba, terus belajar, dan menciptakan sesuatu yang lebih baik. Karena pada akhirnya, kemajuan lahir ketika teknologi dan kemampuan manusia bergerak bersama untuk memberi dampak yang nyata," kata Amy.
"Di Hutama Karya, kami mencoba bergerak dan memulai dengan langkah demi langkah transformasi untuk mempersiapkan diri menghadapi masa depan," lanjutnya.
Tekan Risiko Rework hingga Keterlambatan
Manfaat penerapan BIM salah satunya terlihat pada Proyek Bendungan Semantok. Analisis desain dan kondisi lapangan yang lebih akurat membantu tim mengidentifikasi potensi rework pada pekerjaan lereng dan fondasi sejak tahap perencanaan.
Langkah tersebut disebut mampu menghindarkan proyek dari potensi keterlambatan sekitar enam bulan serta mencegah potensi kerugian akibat rework yang diperkirakan mencapai 8% dari nilai kontrak.
Penerapan teknologi juga dilakukan pada Jalan Tol Trans Sumatera Ruas Rengat-Pekanbaru.
Proyek tersebut menjadi salah satu showcase penerapan BIM dan LiDAR Hutama Karya serta meraih penghargaan Innovator of The Year pada Autodesk ASEAN Innovation Awards 2021.
Selain BIM, Hutama Karya memanfaatkan teknologi LiDAR dan Photogrammetry untuk survei topografi, pemetaan kondisi eksisting hingga memantau perkembangan pekerjaan di lapangan.
Dibandingkan metode survei konvensional, teknologi tersebut disebut dapat menghasilkan data lebih cepat dan akurat dengan cakupan wilayah lebih luas. Penggunaan teknologi juga mengurangi risiko petugas saat melakukan pengukuran di wilayah yang sulit dijangkau atau berbahaya.
Lean Construction Pangkas Waktu dan Biaya
Transformasi juga dilakukan melalui penerapan Lean Construction. Sistem tersebut bertumpu pada tiga prinsip, yakni Respect for People, Maximize Value Minimize Waste, dan Continuous Improvement.
Implementasinya dilakukan melalui Last Planner System (LPS), pengendalian material berbasis Just in Time (JIT), Value Stream Mapping, Takt Planning dan 5S yang diintegrasikan dengan BIM.
Penerapan metode tersebut diklaim memberikan hasil pada sejumlah proyek.
Pada Proyek Bayung Lencir-Tempino Seksi 3, optimalisasi perencanaan mempercepat target penyelesaian dari sekitar 20 bulan menjadi 17 bulan.
Sementara pada salah satu proyek di Ibu Kota Nusantara (IKN), penerapan Lean Construction disebut mampu menekan biaya sewa alat sekitar 20% dan konsumsi bahan bakar sekitar 15%.
Efisiensi tersebut turut mengurangi emisi karbon sekitar 50 ton CO?. Langkah itu sejalan dengan penerapan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG), terutama dalam mengurangi jejak karbon proyek konstruksi.
Pada Proyek BRI Ragunan Paket 2, integrasi 5S, BIM dan Takt Planning juga disebut mempercepat target penyelesaian proyek dari April 2026 menjadi Desember 2025.
Bidik AI hingga Digital Twin
Mengacu pada Rencana Jangka Panjang Perusahaan (RJPP) 2025-2029, Hutama Karya akan melanjutkan penguatan Digital Construction dan Lean Construction.
Fokus pengembangan diarahkan pada integrasi data proyek, penggunaan data analytics untuk pengambilan keputusan, penguatan interoperabilitas sistem digital hingga eksplorasi teknologi baru seperti Artificial Intelligence (AI), Digital Twin dan otomatisasi.
Transformasi tersebut sekaligus diarahkan untuk mendukung pembangunan infrastruktur yang berkualitas, merata dan berkelanjutan.
Plt. EVP Sekretaris Perusahaan Hutama Karya, Hamdani, mengatakan transformasi teknologi menjadi bagian dari identitas perusahaan sebagai BUMN Karya.
"Transformasi teknologi di Hutama Karya bukan sekadar cerita di balik layar proyek, tetapi bagian dari identitas dan reputasi Perseroan sebagai BUMN Karya yang inovatif," kata Hamdani.
Menurutnya, momentum Hakteknas juga menjadi kesempatan untuk menunjukkan bahwa pembangunan infrastruktur tidak hanya berbicara mengenai hasil akhir.
"Setiap infrastruktur yang kami bangun, dari Sabang sampai Merauke, lahir dari proses yang terukur, akuntabel, dan didukung teknologi terkini," pungkasnya.