MEULABOH,ANDALAN.CO-Kabupaten Aceh Barat dahulu dikenal sebagai salah satu wilayah penghasil buah rumbia dalam jumlah besar. Komoditas ini bahkan pernah menjadi bagian dari peredaran hasil pertanian lokal yang dipasarkan hingga ke Banda Aceh oleh para pedagang buah. Namun, dalam kurun waktu sekitar 17 tahun terakhir, tanaman rumbia di wilayah tersebut tidak lagi berbuah, meninggalkan jejak kejayaan yang kini hanya tersisa dalam cerita masyarakat.
Kondisi ini tidak hanya berdampak pada ketersediaan buah lokal, tetapi juga mengubah cita rasa kuliner tradisional di Meulaboh, khususnya rujak yang sebelumnya menggunakan buah rumbia sebagai salah satu bahan utama. Para pedagang kini harus mencari alternatif buah lain untuk tetap mempertahankan dagangannya.
“Selama buah rumbia tidak ada lagi, kami saat membuat rujak terpaksa mencampur dengan buah sawo dan buah lainnya, tetapi rasanya tidak seenak dulu ketika buah rumbia masih berbuah,” ujar Evi, salah seorang penjual rujak di Meulaboh, Jumat (12/6/2026) dini hari waktu setempat.
Menurut Evi, perubahan bahan baku tersebut turut memengaruhi rasa dan minat sebagian pelanggan yang sebelumnya mengenal rujak Meulaboh dengan cita rasa khas buah rumbia yang segar dan sedikit asam. Meski demikian, para pedagang tetap berupaya mempertahankan usaha mereka di tengah keterbatasan bahan lokal.
Di sisi lain, masyarakat pedesaan di Aceh Barat masih memanfaatkan tanaman rumbia yang tersisa, terutama bagian batang dan daun. Adi, warga Dusun Monkulu, Gampong Ladang, Kecamatan Samatiga, menjelaskan bahwa batang rumbia yang telah tinggi kerap disebut sebagai batang sagu dan masih memiliki nilai ekonomi.
Menurut Adi, batang tersebut dapat diolah menjadi bahan pangan tambahan serta dimanfaatkan sebagai pakan ternak, khususnya ayam dan itik. Proses pengolahannya dilakukan secara sederhana oleh masyarakat setempat.
“Kami bisa membeli satu batang sagu seharga Rp70.000. Setelah dipotong-potong sekitar satu meter, kami jual kembali untuk pakan ayam dan itik di Kecamatan Samatiga. Kami hanya mencari keuntungan sedikit,” tutur Adi dengan mata berkaca-kaca.
Selain batangnya, daun rumbia juga masih memiliki nilai guna. Daun tersebut dijahit menjadi bahan atap tradisional yang hingga kini masih digunakan di beberapa wilayah pedesaan. Harga daun atap rumbia saat ini berkisar Rp6.000 per gagang, menjadi salah satu sumber pendapatan alternatif bagi warga.
Adi menambahkan, meski buah rumbia sudah lama tidak lagi ditemukan, masyarakat masih berharap adanya perhatian terhadap potensi tanaman ini, baik dari sisi pelestarian maupun pengembangan kembali manfaat ekonominya.
“Walaupun buah rumbia tidak ada lagi, batang dan daunnya masih bisa menjadi sumber ekonomi,” ujarnya.
Hilangnya buah rumbia di Aceh Barat tidak hanya menyisakan dampak ekonomi, tetapi juga mengikis salah satu identitas kuliner lokal yang dahulu cukup dikenal masyarakat. Hingga kini, belum ada kepastian apakah tanaman tersebut dapat kembali berbuah seperti masa sebelumnya.
(Muhibbul Jamil)